Al-Aqsha Masih Dalam Bahaya

No comment 392 views
Rana Setiawan

Rana Setiawan, Penulis

Amat disesalkan sebagian besar ummat Islam di dunia, apalagi lagi ummat Islam di Indonesia, belum begitu banyak mengetahui bahaya yang mengintai Masjid Al-Aqsha di Kota Al-Quds, Palestina.

Isu Palestina seringkali dilihat sebagai isu Arab-Israel dan sering pula digambarkan sebagai konflik perebutan tanah, yang akhirnya mengaburkan usaha penghancuran kiblat pertama bagi umat Islam ini.

Sungguh tidaklah sulit jika kita mendapati mayoritas anak-anak muda dan generasi tua yang tidak tahu menahu bahwa Masjid Al-Aqsha pernah dibakar pada tahun 1969.

Lebih mengenaskan lagi, banyak yang tidak mengambil peduli tentang ancaman para ekstrimis Yahudi yang akan merampas Masjid Al-Aqsha, berbanding dengan kepekaan mereka terhadap siapa yang bakal memenangi Dangdut Academy!

Lebih menyedihkan lagi, Organisasi Kerjasama Islam (OKI) yang didirikan setelah peristiwa Masjid Al-Aqsha dibakar pada 1969, kini di bawah kepemimpinan Jeddah, sedang mempersiapkan KTT Luar Biasa mengenai Al-Quds dan Palestina yang akan diadakan di Jakarta awal Maret ini.

Tentunya ini tanda bahwa kondisi Al-Aqsha dan Palestina kian memburuk. Berbagai bentuk ancaman dan bahaya dihadapi situs tersuci ketiga bagi ummat Islam ini, di antaranya dibakar, diserbu, digali dasarnya, dinodai, dihalangi pengunjungnya, dikepung, dinajisi dan tindakan penistaan lainnya.

Hal itu semua telah terjadi dan terus menerus dilakukan oleh para ekstrimis Yahudi didukung Otoritas Zionis Israel.

Berdasarkan Pusat Informasi Urusan Al-Quds dan Al-Aqsha QPress dalam ringkasan studinya selama 2015, menegaskan bahwa pada tahun 2016 ini Al-Aqsha akan menjadi target penjajah Zionis dari tiga poros utama; pertama, mengintensifkan realisasi rencana proyek-proyek yahudisasi raksasa di sekitar Al-Aqsha. Kedua, menggali lebih dalam tanah di bawah Al-Aqsha, menambah jumlah sinagog dan museum Yahudi. Ketiga, mematangkan (termasuk dari sisi UU) legalitas penyerbuan ekstrimis Yahudi ke Al-Aqsha.

Qpress juga menegaskan, sebagaimana laporan Pusat informasi Palestina (PIP), jika tiga poros itu terwujud maka semua pihak akan tercengang seiring dengan makin kuatnya perlawanan Palestina dalam bentuk Intifadhah Al-Quds saat ini.

Yahudisasi Al-Aqsha

Ada beberapa tindakan Yahudisasi yang terus berlangsung, di antaranya:

Pertama, mengintensifkan realisasi rencana proyek-proyek yahudisasi raksasa di sekitar Al-Aqsha. Ini muncul jelas di mana pemerintah Netanyahu fokus kepada proyek yahudisasi di sekitar Al-Aqsha dan wilayah Al-Burraq (dianggap tembok ratapan oleh Yahudi) dan wilayah Silwan.

Di tembok Al-Burraq, Zionis Israel membangun proyek yahudisasiStrauss House di bahu jembatan Ummu Banat yang menempel di Halaman Al-Burraq. Hingga kini Israel masih terus membangun bangunan ini.

Akhir 2015, Israel menyetujui rencana pembangunan Rumah Mutiara Yahudi setelah menjadi polemik selama delapan tahun. Bangunan ini akan memiliki tiga lantai berhadapan dengan Masjid Al-Aqsha di samping Halaman Al-Burraq di sebelah barat masjid yang realisasinya akan dipercepat.

Di Gerbang Silwan, sebelah selatan Al-Aqsha, Israel akan membangun “Kuil Torah” setinggi tujuh lantai. Otoritas Pendudukan Israel terus menekan agar proyek ini segera diselesaikan.

Selain itu, kewenangan operasional di wilayah “Istana Umawi”, sebelah selatan Al-Aqsha akan dilimpahkan kepada lembaga Yahudi “El-Ad” sehingga proyek raksasa yahudi akan semakin massif seperti proyek Taman Yahudi Davidson.

Kedua, menggali lebih dalam tanah di bawah Al-Aqsha, menambah jumlah sinagog dan museum Yahudi. Penggalian akan semakin dalam di sisi barat daya tembok Al-Aqsha, Wadi Hilwah di Silwan yang bersambung dengan penggalian di sisi barat.

Di bawah tanah, akan semakin banyak dibangun ruang-ruang, sinagog Yahudi, museum untuk menegaskan tentang sejarah versi Talmud.

Selain itu, mereka juga akan memulai proyek pembangunan permukiman ilegal Yahudi di wilayah 1 untuk menghubungkan secara geografis kota Al-Quds dengan Tepi Barat. Setelah itu mereka melakukan pembagian waktu terhadap Masjid Al-Aqsha untuk kemudian melancarkan pembagian wilayah terhadapnya.

Zionis Israel pun pada tahun 2016 ini ingin merusak demografi Kota Al-Quds melalui proyek “pembatasan hak kewarganegaraan Palestina di Al-Quds” yakni bagi warga Palestina yang di luar garis batas (pagar) Kota Al-Quds.

Otoritas Israel menyatakan, identitas kewarganegaraan (KTP biru) dapat dibatalkan oleh Israel terhadap sekitar 40 ribu warga Al-Quds yang tinggal di luar garis batas (pagar) kota Al-Quds.

Israel juga akan melakukan penyitaan bangunan di wilayah Palestina di Al-Quds dengan berbagai cara.

Legalisasi Penyerbuan

Data menyebutkan, jumlah ekstrimis Yahudi yang menggerebek Al-Aqsha selama era Netanyahu 2009-2015 naik tajam hingga lebih dari 200 persen. Sementara lembaga Al-Aqsha atau Yayasan Imarah Al-Aqsha mencatat terjadi kenaikan hingga 300% di era sebelumnya.

Sebanyak 5.658 ekstrimis Yahudi yang menyerbu Al-Aqsha pada tahun 2009. Sementara pada tahun 2015 telah mencapai 10.766 ekstrimis Yahudi.

Menurut catatan Dinas Wakaf, jumlah ekstrimis Yahudi yang menyerbu Al-Aqsha pada 2015 mencapai 11.489 dan menurut Qpres mencapai 14.074 orang. Sementara data Israel menyebutkan bahkan jumlah selama periode enam tahun terakhir telah mencapai 57.621 ekstrimis yahudi.

Artinya, setiap tahunnya Zionis Israel ingin melakukan lompatan jumlah penyerbu Yahudi ke Al-Aqsha dengan rata-rata setiap tahunnya sebanyak 5 ribu hingga 10 ribu dan nantinya akan meningkat jauh hingga 15 ribu.

Pada awal tahun ini saja, Otoritas Penjajah Zionis Israel sengaja membebaskan para pemukim ilegal ekstrimis Yahudi dengan kawalan pasukan khususnya untuk menyerbu dan melakukan ritual provokatif di lingkungan Komplek Masjid Al-Aqsha.

Sejak awal bulan ini saja, menurut laporan QPress, sudah 267 pemukim ilehal ekstrimis Yahudi menyerbu pelataran Masjid Al-Aqsha.

Sementara Zionis Israel mencegah para jamaah Muslim Palestina untuk dapat memasuki masjid, dengan pengaturan super ketat, blokade pagar pembatas, dan checkpoint-checkpoint hambatan yang dibangun mereka di pintu gerbang menuju Al-Aqsha.

Mereka hanya mengizinkan Muslimin berusia di atas 40 tahun untuk memasuki Masjid Al-Aqsha.

Pemimpin Gerakan Islam Syeikh Raid Sholah yang tak henti-hentinya mebela Al-Aqsha hingga Direktur Masjid Al-Aqsha, Syaikh Bkheirat, beserta pengurus masjid pun diasingkan Otoritas Zionis, menolak masuk mereka menuju AL-Aqsha.

Ketiga poros target Israel ke Al-Aqsha itu menandakan Zionis Israel makin massif dan makin membahayakan.

Sebagai reaksi itu, Rakyat Palestina, di Tepi Barat dan Al-Quds makin menunjukkan kesadarannya yang tinggi dalam membela tempat suci Al-Aqsha. Semakin meningkat kekerasan Israel, aksi Intifadhah juga akan semakin meluas.

Intifadhah Al-Quds pada 2015 lalu sedikit mengganggu proyek Zionis ini. Namun, Otoritas Penjajah Israel sudah mewujudkan tujuannya karena berhasil meneken kesepakatan politik dengan Yordania yang membolehkan pemukim ilegal Yahudi menggerebek Masjid Al-Aqsha.

Kesadaran Ummat

Rasanya ummat Islam harus bersikap proaktif dalam menyelamatkan Masjid Al-Aqsha. Indonesia yang mayoritas ummat Islam terbanyak di seluruh dunia tentunya mempunyai peran penting dan strategis.

Tidak heran jika OKI dan Perwakilan Palestina meminta Indonesia menjadi tuan rumah KTT Luar Biasa OKI untuk Al-Quds dan Palestina awal Maret ini.

Semula KTT Luar Biasa ini akan diselenggarakan di Maroko, tapi Maroko menyatakan ketidaksanggupannya. Penyelenggaraan KTT yang mengundang kurang lebih 56 kepala negara/kepala pemerintahan ini pun atas permintaan Palestina dan Sekjen OKI.

Alasan kuat kenapa KTT Luar Biasa OKI ini digelar pun karena kondisi Al-Quds yang tak kunjung membaik hingga saat ini, negosiasi dalam konteks kuartet sudah berhenti sejak Mei 2015, dan situasi dunia saat ini sangat dinamis sehingga terjadi distraksi isu yang dikhawatirkan akan menjadikan isu Palestina ini menjadi tersingkirkan.

Selain itu, gerakan masyarakat Muslim di Indonesia juga menjadi sorotan dunia. Salah satunya upaya Jamaah Muslimin (Hizbullah) yang mendeklarasikan Ghazwah Fathul Aqsha sejak 2006 lalu yang diwujudkan dalam bentuk sosialisasi tentang kondisi Al-Aqsha kepada umat Islam dunia dengan mengadakan berbagai seminar, tabligh akbar, gerak jalan cinta Al-Aqsha, dan berbagai acara lainnya.

Jamaah Muslimin telah mengadakan Konferensi Internasional Al-Quds di Bandung pada 2012, Global March to Jerusalem (gerak jalan dunia menuju Al-Quds), dan mengirim relawan ikut dalam armada bantuan Mavi Marmara untuk menembus blokade Israel terhadap Jalur Gaza pada 2010.

Dalam kurun satu dasawarsa itu, Jama’ah Muslimin juga mendirikan Aqsha Working Group (AWG) sebagai lembaga yang bekerja fokus untuk membebaskan Masjid Al-Aqsha dan Palestina, mendirikan Kantor Berita Islam Mi’raj (Mi’raj Islamic News Agency – MINA) untuk perjuangan di media, dan mendirikan universitas Al-Quran online (SQABM) untuk mencetak generasi qurani sebagai generasi pembebas Masjid Al-Aqsha.

Bahkan pada Peringatan 10 Tahun Ghazwah Fathul Aqsha di Masjid At-Taqwa, Kompleks Pondok Pesantren Al-Fatah Pasirangin, Cileungsi, Bogor, Jum’at (12/2) malam, Jamaah Muslimin (Hizbullah) telah mencanangkan “Hari Cinta Al-Aqsha” dan melantik kader dakwah untuk pembebasan Masjid Al-Aqsha yang disebut dengan “Duta Al-Quds”.

Pada “Hari Cinta Al-Aqsha” yang jatuh setiap hari Senin, ummat Islam diharapkan dapat merperbarui komitmen untuk membebaskan Masjid Al-Aqsha dari tangan penjajah Zionis Israel, meningkatkan gerak perjuangan menuju pembebasan tersebut, menghimpun dana melalui tabung-tabung Cinta Al-Aqsha.

Hari Cinta Al-Aqsha ini didukung oleh berbagai tokoh dan ulama, khsuusnya para pejuang Palestina di Gaza.

Selain itu, umat Islam juga diharapkan menggunakan atribut-atribut Cinta Al-Aqsha khususnya di sekolah atau madrasah saat marosim guru-guru, sementara para Imam sholat diminta membaca QS. Al-Isra ayat 1-8 saat memimpin shalat berjamaah.

Saatnya Berkontribusi

Atas kesadaran ini-lah, jika anda membaca artikel ini dan merasakan tanggungjawab Anda untuk mempertahankan Masjid Al-Aqsha agar tidak dibakar untuk kedua kalinya, atau dirobohkan dan digantikan dengan kuil Yahudi, maka Anda harus melakukan tindakan yang wajib segera dilakukan!

Mulailah dari diri sendiri, ketahuilah sejarah dan maklumat yang berkaitan dengan Palestina dan Masjid Al-Aqsha. Persiapkanlah diri Anda dan keluarga untuk menyambut seruan jihad demi mempertahankan Masjid Al-Aqsha.

Didiklah anak-anak, saudara, tetangga dan rekan kerja Anda tentang kepentingan membela Masjid Al-Aqsha dalam aqidah ummat Islam. Jika Anda mempunyai kuasa di sekolah, anjurkan program yang berkaitan dengan kesadaran terhadap Masjid Al-Aqsha. Begitu juga jika anda menjadi pegurus di masjid dan perkumpulan Islam setempat.

Bagi para mahasiswa/i juga adalah tugas Anda untuk menghidupkan ruh jihad bagi pembebasan Masjid Al-Aqsha di dalam hati setiap penghuni kampus Anda sekalian. Anjurkanlah program memperingati Masjid Al-Aqsha di kampus dengan ceramah, konser, perhimpunan amal, buletin, diskusi, forum, tayangan video dan berbagai jenis acara yang dapat anda pikirkan secara kreatif.

Jika Anda mampu, sebarkan artikel ini dan artikel lain yang berkaitan dengan Masjid Al-Aqsha kepada mereka, saudara-saudara kita, agar kesadaran yang muncul nanti akan membawa kepada hasil yang positif di masa mendatang.

Lakukanlah segera tindakan proaktif sebelum sampai waktunya ummat Islam hanya mengenali Masjid Al-Aqsha setelah ia dirobohkan dan digantikan dengan Kuil Yahudi.

Pada saat itu, segalanya sudah terlambat!

Allahu Akbar!!!. Al-Aqsha Haqquna!!! Al-Aqsha Milik Umat Islam!!!

No Response

Leave a reply "Al-Aqsha Masih Dalam Bahaya"