Delapan Cara Pandang Kita Terhadap Palestina (4 dari 8)

BismilLah.
Keempat, terkait fenomena Zionis-Israel yang nyata dan terus ada. (Ternyata) Israel tidak memiliki akar sejarah penduduk asli Palestina. Kedatangan mereka, berawal dari akhir periode sebelum lahirnya Isa bin Maryam sampai permulaan Masehi, hanyalah sebagai imigran dari Mesir. Jauh sebelum masuknya Israel, Palestina telah dihuni oleh bangsa Kanaan. Hal ini disebutkan dalam Injil dan Al Quran.

Berdasarkan Hukum Internasional yang menyatakan bahwa yang berdaulat atas suatu wilayah adalah mereka yang pertama mendiami wilayah tersebut dan dapat menunjukkan bukti eksistensi mereka atas wilayah tersebut, berupa aktivitas dan bukti-bukti fisik yang menunjukkan kedaulatan mereka atas wilayah tersebut. Karena itu, bangsa Kanaan yang merupakan nenek moyang Arab Palestina saat ini adalah pemilik sah tanah Palestina.

 

Berita Besar : "Israel's surprising best seller contradicts founding ideology"

Professor Shlomo Sand membuktikan, diantaranya bahwa :
1. Bangsa Yahudi -yang kemudian butuh tempat singgah sehingga mendirikan negara Israel- tidaklah lebih dari mitos saja.
2. Yahudi tidak pernah diasingkan dari Holy Land (Tanah Suci), bahkan Yahudi saat ini tidak punya hubungan sejarah dengan tanah Israel. Dan satu-satunya solusi politik bagi terjadinya konflik dengan negeri Palestina adalah mengakhiri adanya negara Yahudi (Israel).

Bukunya yang berjudul "When and How Was The Jewish Invented?" menjadi best-seller di negerinya. Sudah dicetak tiga kali dalam bahasa Perancis. Sementara terjemahan dalam bahasa lain sudah menunggu, termasuk bahasa Arab dan Inggris. Tapi dia memprediksi terjemahan bahasa Inggris-nya bakal diganjal oleh lobby pro-Israel, yang rencananya akan diluncurkan tahun depan oleh penerbit Verso di Amerika.

Ide penulisan buku sebenarnya sudah beberapa tahun yang lalu, tapi Sand berkata, ia menunggu hingga saat yang tepat untuk memulai. "Saya menunggu hingga saya menjadi Professor penuh. Pasti ada harga "mahal" yang harus dibayar dalam dunia akademik Israel, untuk bisa mengemukakan hal semacam ini", kata Sand.

Bahasan utama Sand, bahwa lebih dari satu abad yang lalu, Yahudi berpikir dirinya hanyalah Yahudi saja, yakni berdasar kepercayaannya. Tapi pada saat abad ke-20, Yahudi Zionis menantang ide ini dan memulai untuk membentuk sejarah nasional, dengan mengada-ada bahwa Yahudi muncul sebagai rakyat yang terpisah dari kepercayaannya. Sama halnya, ide Yahudi Zionis modern, yang mewajibkan untuk kembali dari "tanah" pengasingan ke Promised Land (Tanah Yang Dijanjikan), yang keseluruhannya adalah asing bagi Judaisme (kepercayaan Yahudi).

"Zionis-lah yang mengubah pandangan Yahudi tentang Yerusalem. Sebelumnya, tempat suci tersebut dilihat sebagai tempat tujuan, tapi bukan sebagai tempat hidup. Selama 2.000 tahun, Yahudi menjauh dari Yerusalem bukan karena tidak dapat kembali, tetapi karena kepercayaan bahwa mereka dilarang untuk kembali ke sana hingga datangnya Al-Masih."

"Sama halnya tentang pengasingan. Secara fakta, kamu tidak dapat menjelaskan ke-yahudi-an tanpa pengasingan. Tapi saat saya mulai mencari buku sejarah yang menjelaskan tentang hal ini, saya tidak mendapatkannya. (Bahkan) tidak satu pun. Hal demikian karena Romawi tidak mengasingkan rakyat Yahudi. Bahkan faktanya, Yahudi di Palestina menjadi petani yang gemilang, dan (bukti-bukti yang ditemukan) memberi kesan bahwa mereka memang tetap tinggal di sana."

Sumber : http://electronicintifada.net/v2/article9884.shtml

No Response

Leave a reply "Delapan Cara Pandang Kita Terhadap Palestina (4 dari 8)"