HOT NEWS

PDF Print E-mail
Trauma Psikologis: Mimpi Buruk Menghantui Anak-anak Gaza
Wednesday, 18 Safar 1431
Wednesday, 03 February 2010 09:39
Setahun berselang. Remah-remah traumatis pasca serangan Operasi Cast Lead tak kunjung mereda. Ibarat virus yang terus menduplikasi diri lantas mengancam kemapanan vitalitas si empunya ragawi, tragedi tragis ini kian rakus memandulkan keinsyafan psikologis anak-anak Gaza. Hari-hari mereka tak lepas dari mimpi buruk dan intaian memori pahit.
 
Mona Al-Samouni (12) merupakan satu diantara sekian banyak anak-anak Gaza yang merenda hari dalam dekapan mimpi-mimpi buruk. Kemampuan memori fotografi yang masih segar kerap mencuatkan slide-slide utuh saat ia menyaksikan kedua orang tua dan sejumlah kerabatnya ditembak oleh tentara Israel di rumahnya sendiri di Zeitoun, tenggara Kota Gaza.
 
Mona, seperti halnya anak-anak lain yang menyaksikan peristiwa-peristiwa mengerikan selama 23 hari operasi militer Israel di Jalur Gaza, berlakon menjadi sosok pendiam dan semakin menarik diri. Sebuah cara yang kerap didaulat untuk mengatasi tragedi. 
 
Pembunuhan keluarga Mona adalah salah satu insiden yang paling terkenal dalam konflik Gaza tahun lalu, sekaligus menjadi satu dari 11 insiden yang diselidiki oleh PBB. Dalam kasus ini, pasukan Israel melancarkan serangan langsung terhadap penduduk sipil, yang berujung pada syahidnya 23 anggota keluarga Al-Samouni. 
 
Ayesh Samour, Direktur Rumah Sakit Jiwa di Gaza, mengatakan kepada IRIN, "Terjadi penurunan yang signifikan dalam kesejahteraan psikologis anak-anak Palestina yang tinggal di Jalur Gaza, khususnya pasca perang baru-baru ini."
 
Berdasarkan studi yang dilakukan oleh LSM Ard al-Insan di Gaza, 73 % anak-anak Gaza masih menderita gangguan psikologis dan perilaku, termasuk trauma psikologis, mimpi buruk, mengompol, tekanan darah tinggi, dan diabetes. 
 
Samour mengatakan, kehidupan masa kecil yang normal bagi anak-anak Gaza terpasung oleh ketidakamanan dan ketidakstabilan di lingkungan mereka. Menurutnya, budaya kekerasan dan kematian telah merasuki mentalitas mereka, membuat mereka lebih pemarah dan lebih agresif. 
 
Selain itu, tandas Samour, langkanya ahli kesehatan di Gaza dan kurangnya akses peralatan medis membuat anak-anak Gaza tidak mendapat bantuan sesuai kebutuhan mereka. 
 
Basem Naim, Menteri kesehatan Hamas di Gaza, mengatakan, rumah sakit dan fasilitas perawatan utama yang rusak akibat konflik Gaza belum dibangun kembali akibat blokade yang diterapkan Israel. Bahan-bahan bangunan dilarang masuk.
 
"Ahli kesehatan di Gaza terputus dari dunia luar," kata Naim. 
 
Hussain Ashour, direktur Rumah Sakit al-Shifa, rumah sakit utama di Gaza City, mengatakan bahwa mereka kekurangan peralatan medis dan paediatricians. 
 
Proyek Save The Children
 
Save the Children Swedia dan lembaga anak-anak PBB (United Nations Children's Fund/ UNICEF) meluncurkan Proyek Pusat Keluarga di Gaza pada 25 Januari lalu. 

"Proyek ini akan memastikan bahwa hak untuk bertahan hidup dan perkembangan anak yang penuh resiko dijamin melalui pembentukan 20 Family Centre di berbagai komunitas di Jalur Gaza," Patricia Hoyos, direktur Save the Children di Gaza, mengatakan kepada IRIN. 

"Peran utamanya ialah melayani masyarakat luas, serta memberi perlindungan anak yang berkualitas, pendidikan, kesehatan dan pelayanan psikososial kepada mereka yang membutuhkan dukungan," tegasnya. (nisa/irin)

Last Updated ( Thursday, 19 Safar 1431 16:51 )
Comments (0)add comment

Write comment
smaller | bigger

busy
 

Maaf Kenyamanan Anda Terganggu

Anda Menggunakan Browser Internet Explorer Versi lama .

Hal ini Mempengaruhi kepada tampilan web ini? Tampilan ini akan senantiasa ada selama Anda belum mengupdate Browser Anda

.