Aksi & Pergerakan
Tuan Yahudi di Lapangan Wina dan Pele Palestina di Antrean Makanan
Oleh: Rachmat Asyari, M.Pd. (Kabid Litbang & Kaderisasi AWG)
Dulu, orang-orang Yahudi Eropa hidup di ghetto-ghetto-kawasan pemukiman kumuh, padat dan miskin. Di jalan-jalan sempit perkampungan, banyak tempat tinggal yang tidak terkena sinar matahari. Mata mereka terbiasa dengan kegelisahan. Kaki yang tidak banyak bergerak, seakan lupa cara untuk melangkah. Kondisi fisik yang begitu lemah.
Kondisi di atas dijabarkan oleh Max Nordau (1849-1923) dengan istilah Judentot atau kemurungan Yahudi. Ia adalah seorang dokter, penulis dan salah satu pendiri gerakan Zionisme-sebuah gerakan yang mengajak orang-orang Yahudi untuk kembali dan membangun negara sendiri di Palestina.
Yahudi Berotot
Untuk menghadapi sikap anti-semitisme dan kondisi kemurungan tersebut, Nordau mencetuskan sebuah doktrin yang disebut Muskeljudentum atau ‘Yahudi berotot’. Menurutnya, orang Yahudi tidak hanya perlu menyegarkan raga politik mereka, tapi juga raga jasmaninya. Ia menghimbau orang-orang Yahudi menanamkan modalnya untuk membangun gimnasium dan lapangan-lapangan olahraga. “Kita ingin memulihkan kebugaran yang hilang dari badan lembek Yahudi, menjadikannya kuat penuh semangat, dan gesit penuh tenaga”, ungkapnya.
Pada tahun 1909, Fritz Beda-Lohrner bersama kelompoknya di Wina, mewujudkan semangat Nordau dengan membentuk Klub sepak bola Hakoah, yang dalam bahasa Ibrani berarti ‘kekuatan’. Dengan tim ini, stereotip negatif tentang Yahudi hendak dibongkar. Hakoah menjadi tim pertama yang secara profesional menggaji para pemain, bahkan besarnya mencapai tiga kali lipat dari rata-rata upah buruh, sehingga bisa merekrut para pemain terbaik Yahudi dari seluruh Austria dan Hungaria.
Hakoah dan Tuan Yahudi
Pada musim liga 1924-1925, Hakoah mencapai apa yang diidam-idamkan para pendirinya: menjadi tim juara yang dijalankan oleh segerombolan orang Yahudi. Dulu warga Wina yang anti-semit datang ke stadion hanya untuk mencaci-maki dengan teriakan Drecskjude (Yahudi Dekil) atau Judensau (Babi Yahudi), kini mereka datang ke stadion mendukung Hakoah sambil berteriak “Ayo Tuan Yahudi”.
Edmund Schechter, seorang diplomat Amerika dalam memoarnya mengungkapkan, “Setiap kemenangan Hakoah menjadi bukti lanjutan bahwa masa-masa inferiorioritas fisik bangsa Yahudi telah berakhir”. Kelompok elite Yahudi yang semula mencerca sepak bola sebagai permainan kelas buruh begundal, mulai mendanai Hakoah. Mereka sadar bahwa olahraga bisa menjadi alat politik yang ampuh.
Meski akhirnya Hakoah harus dibubarkan karena Anschluss atau aneksasi Austria oleh Jerman pada 1938, dan stadion klub diserahkan ke tangan Nazi. Semangat sepak bola terus hidup di Israel hingga hari ini. Liga domestik (Israel Premier League) terus bergulir ditengah genosida gaza dan pendudukan Tepi Barat, bahkan mereka memiliki kesempatan untuk bertanding dalam berbagai turnamen Eropa (Liga Champion, Liga Eropa dan Liga Konferensi UEFA). Sementara Timnas Israel, walau tidak lolos ke Piala Dunia 2026, pertandingan-pertandingan internasional terus berlangsung tanpa hambatan di Eropa.
Sepak Bola Palestina
Laksana bola yang berputar, semangat membangun ‘kedaulatan fisik’ yang digunakan orang-orang Yahudi untuk melawan penindasan, kini justru digunakan untuk membangun tembok penghalang bagi bangsa Palestina. Di Gaza, 269 fasilitas olahraga hancur, lebih dari 1.000 atlet gugur. Stadion yang seharusnya menjadi tempat lahirnya pahlawan olah raga, berubah fungsi menjadi tempat penahanan massal, seperti yang terjadi di Stadion Yarmouk dan Stadion Palestina.
Puncak tragedi terjadi ketika Suleiman al-Obeid, yang dijuluki sebagai ‘Pele Palestina’ harus gugur saat mengantre untuk mendapatkan bantuan makanan. Rentetan peristiwa yang menggambarkan bagaimana penghancuran sistematis sengaja dilakukan zionis Israel, tidak hanya menargetkan sepak bola dan kehidupan para atlet, tetapi juga harapan dan masa depan Palestina.
Di Tepi Barat, setiap ruang yang dapat menjadi arena olahraga dihadapkan ancaman pembongkaran. Ancaman ini terlihat jelas di stadion kamp pengungsi Aida di Bethlehem. Satu-satunya fasilitas terbuka yang ukurannya hanya setengah dari lapangan sepak bola resmi, meskipun Gereja Armenia selaku pemilik sah lahan, telah mengajukan banding.
Pertarungan Identitas
Insiden sarat muatan politik terjadi pada kongres FIFA ke-76 di Vancouver, Kanada, Mei 2026. Presiden FIFA Gianni Infantino mencoba membujuk Jibril Rajoub (Presiden PFA – Asosiasi Sepak bola Palestina) agar mau berjabat tangan dengan Basim Sheikh Suliman (Wakil Presiden IFA – Asosiasi Sepakbola Israel). Namun Rajoub menolak dengan tegas:
“Saya tidak bisa menjabat tangan seseorang yang mewakili pemerintah yang melakukan fasisme dan genosida terhadap rakyat kami”.
Jika dulu sepak bola digunakan oleh orang-orang Yahudi untuk melawan diskriminasi dan berbagai stereotip negatif. Kini, sepak bola digunakan oleh bangsa Palestina untuk menunjukkan eksistensi dan identitas mereka di mata dunia.***