Artikel

Pendidikan di Gaza: Perlawanan terhadap Scholasticide

Oleh: Elzavira Felaza S.T., M.Sc. (Mahasiswa doktoral Education, Practice and Society; University College London)

SELAMA tiga tahun ajaran beruturut-turut, anak-anak Gaza kehilangan hak paling dasar untuk belajar dengan aman. Zionis Israel melakukan banyak serangan terhadap infrastruktur pendidikan di Asia Barat, baik di Palestina, Lebanon, maupun Iran. Di atas itu semua, Zionis Israel sedang berusaha menghancurkan ruang berpikir, bermimpi, dan ilmu pengetahuan itu sendiri.

The party told you to reject the evidence of your eyes and ears. It was their final, most essential command,” George Orwell dalam buku 1984.

Kutipan itu terasa begitu dekat dengan cara dunia—dengan propaganda Amerika dan Zionis Israel—memaksa kita memandang genosida di Gaza. Setiap hari kita disajikan dengan video sekolah-sekolah yang dihancurkan, kampus yang diratakan, murid dan mahasiswa yang terpaksa belajar di tenda, di antara reruntuhan, atau tidak belajar sama sekali. Kita mendengar banyak guru, dosen, mahasiswa, dan murid yang dibunuh. Tetapi pada saat yang sama propaganda terus memaksa kita untuk menyebutnya “kerusakan sampingan” dan konsekuensi “perang”.

Berdasarkan data dari Visualizing Palestine dan Euro-Med Human Rights Monitor per Januari 2026, penghancuran pendidikan di Gaza telah mencakup hampir seluruh ekosistem pengetahuan.

Di tingkat perguruan tinggi, 620 laboratorium dan fasilitas khusus universitas hancur atau rusak parah. 195 bangunan universitas di Gaza hancur atau rusak parah. Dari 38 institusi pendidikan tinggi di Gaza, 22 hancur total dan 14 rusak. 13 persputakaan umum dihancurkan. Delapan penerbit dihancurkan. Lebih dari seribu dosen dan staf universitas terbunuh, ditahan, atau terluka. Angka ini setara dengan 22% dari tenaga kerja pendidikan di Gaza.

Di kalangan mahasiswa, lebih dari seribu orang dibunuh dan hampir tiga ribu orang terluka. Di tingkat sekolah, hampir 19 ribu anak sekolah dibunuh. Sebanyak hampir 800 guru sekolah dibunuh dan lebih dari tiga ribu guru sekolah terluka.

Istilah untuk penghancuran sistematis terhadap pendidikan ini adalah scholasticide. Angka-angka tersebut menunjukan skala penghancuran yang dilakukan Israel terhadap akses belajar. Selain itu, kita juga perlu melihat bagaimana scholasticide oleh Israel menyerang cara Masyarakat membayangkan masa depan.

Dalam artikel ilmiah Scholasticide in Gaza: Targeting Education, Memory and Futurity, Bilal Hamamra menulis tentang pengalaman anak-anak di Gaza berdasarkan wawancara yang ia lakukan.

Seorang anak laki-laki berusia 11 tahun di Rafah bercerita, dulu ia bisa membaca dan menulis dengan baik. Ia senang belajar matematika dan geografi. Tapi sekarang ia hampir melupakannya. Hari-harinya dihabiskan untuk mengumpulkan kayu atau berjualan di pasar.

Dalam kesaksian lain, seorang anak perempuan berusia lima tahun berkata bahwa Ketika ia besar nanti, ia ingin makan nasi dengan banyak daging.

Di bawah genosida, masa depan anak-anak menyempit menjadi sepiring nasi dan daging. Imajinasi mereka dipaksa turun ke tingkat terendah, bermimpi untuk bertahan hidup.

Ada juga anak remaja perempuan berusia 18 tahun yang berkata bahwa ia merasa seperti mengkhianati mereka yang telah syahid jika ia berpura-pura hidup berjalan normal. Ia bilang “bagaimana mungkin saya menulis persamaan matematika ketika anak tetangganya baru saja dikuburkan kemarin?”. Tapi di sisi lain, jika ia berhenti belajar, ia merasa seperti menyerah.

Cerita ini menunjukkan dilema yang tidak seharusnya ditanggung oleh siapa pun. Di Gaza, anak-anak dan remaja tetap belajar sebagai bentuk perlawanan.

Kisah lain datang dari Dana Shabat, diliput oleh Al-Jazeera pada awal Juli. Dana adalah seorang siswi SMA berusia 18 tahun yang sedang mengikuti ujian sekolahnya atau Tawjihi. Dengan Sebagian besar sekolah rusak, hancur atau berubah menjadi tempat pengungsian, Dana dan sekitar 37.000 siswa lainnya harus mengikuti ujian secara daring. Daring di Gaza bukan seperti daring yang kita bayangkan. Mereka harus mencari sinyal, listrik. Mereka mengisi daya ponsel di kafe. Belajar di tenda yang panas. Dana belajar sendiri melalui YouTube dan Telegram. Ia mengerjakan ujian di kafe, karena di tempat tersebut para murid SMA berebut listrik dan internet untuk mengerjakan ujian. Dana menggambarkan belajar di dalam tenda seperti berada di dalam oven. Ia juga bercerita bahwa temannya dibunuh Zionis Israel setelah mengerjakan ujian.

Dari posisi pelajar, sulit untuk tidak membayangkan betapa rapuhnya konsentrasi dalam keadaan seperti itu.

Dari posisi sebagai pengajar, scholasticide menghancurkan hubungan antara guru dan murid, dosen dan mahasiswa, orang yang membimbing dan generasi yang sedang tumbuh.

Dalam Pedagogy of the Oppressed, Paulo Freire menolak cara memandang pendidikan sebagai proses transfer informasi dari satu kepala ke kepala lain. Pendidikan adalah proses membangun keberanian untuk berpikir dan melawan penindasan. Konsep ini sangat relevan dengan kondisi pendidikan di Gaza. Salah satu nama yang terus perlu kita ingat dalam konteks ini adalah Dr. Refaat Alareer.

Refaat Alareer adalah dosen, penulis dan salah satu suara intelektual Palestina kontemporer. Ia mengajar sastra Inggris dan penulisan kreatif di Gaza. Baginya, Bahasa Inggris bukan sekedar alat akademik, tapi cara membawa cerita-cerita dari Palestina kepada dunia dan melawan Gambaran Palestina yang sering direduksi menjadi angka korban.

Salah satu muridnya, Zaina Nassar, menulis dalam refleksinya bahwa Dr. Refaat memiliki cara mengajar yang sangat unik di kelasnya. Refaat berkata “Kalau temanmu tidak mengerjakan tugas, nilaimu akan saya kurangi”. Hal ini terdengar aneh. Namun ia menjelaskan bahwa maksud dari cara mengajar Refaat adalah untuk membangun tanggung jawab kolektif dalam kelas. Bahwa dalam kondisi di bawah penjajahan, belajar bukan sekedar urusan individu.

Pendidikan adalah bentuk perlawanan terhadap penindasan dari masyarakat yang menolak untuk dihilangkan raganya, mimpinya, cerita-ceritanya dan tradisinya.

If I must die, let it bring hope, let it be a tale” – Refaat Alareer dalam puisi berjudul If I must die.

Pada 2023, Dr. Refaat Alareer dibunuh dalam serangan udara Zionis Israel di Gaza. Meskipun ia telah dibunuh, gagasan dan pengaruh Refaat tetap hidup. Refaat adalah salah satu sosok penting di balik We Are Not Numbers, sebuah inisiatif yang mendorong anak muda Palestina untuk menulis kisah personal mereka dalam bahasa Inggris dan terhubung dengan penulis serta editor internasional.

Pesan Zaina sederhana; bacalah karya Refaat. Pelajari lebih banyak tentang Palestina. Ingatlah bahwa di balik setiap artikel, berita, dan cerita dari Gaza dan Tepi Barat, ada orang-orang yang mempertaruhkan nyawa untuk menyampaikan kisah itu kepada dunia.

Ketika kita bercerita tentang scholasticide di Gaza, kita berbicara tentang masyarakat yang terus belajar, menulis, mengajar dan bercerita, karena mereka tahu bahwa pendidikan adalah cara untuk melawan penindasan.***